Friday, May 1, 2015

Museum SatriaMandala


Traveler, mungkin sudah tau atau agak asing dengan museum ini. Museum yang beralamat di Jalan Gatot Subroto Kav. 14 Jakarta Selatan ini berisi mengenai Sejarah terbentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI) beserta perangkatnya, berbagai macam koleksi yang berhubungan dengan TNI serta beberapa peristiwa & perkembangan dari TNI dari masa ke masa. Museum ini sangat cocok bagi para Traveler yang ingin mengetahui seluk beluk dari Tentara Indonesia sekaligus mempelajari bagaimana perjuangan tentara kita dalam melindungi negara Indonesia & cocok sekali bagi para pecinta dunia kemiliteran. 

Sejarah singkat


Sebelum menjadi museum, gedung ini dahulunya merupakan rumah tinggal dari salah satu istri dari presiden Indonesia pertama kita Bapak IR.Soekarno yaitu Ibu Ratna Sari Dewi Soekarno yang akhirnya berubah fungsi menjadi sebuah Museum pada tahun 1972 & Diresmikan oleh presiden kedua kita Bapak Soeharto. 

Inside The Museu
m



Dari mulai Traveler masuk museum ini saja sudah terlihat jelas kalau museum ini adalah museum kemiliteran. Ini terlihat di halaman depan museum dimana terdapat berbagai macam koleksi kendaraan & peralatan militer seperti dua buah meriam jarak jauh type 25 PDR, Rudal Jarak Jauh, Helikopter Personel, Pesawat Tempur A-4E SkyHawk & sebuah Replika KRI Matjan Tutul yang tenggelam pada saat Operasi Pembebasan Irian barat Tahun 1962.

Replika KRI "MATJAN TUTUL"

Meriam 25 PDR/88 mm
Plakat Peresmian Museum
Pada saat Traveler masuk kedalam museum di lobby terdapat sebuah tulisan di dinding yang merupakan naskah Teks Proklamasi yang diketik oleh Sayuti Melik & adapula yang berbentuk tulisan tangan selain itu juga ada bendara & lambang dari kesatuan militer di Indonesia. Masuk lebih dalam Traveler akan masuk ke Ruangan Diorama 1 dimana di ruangan ini berisi berbagai macam diorama sejarah terbentuknya Tentara di Indonesia & peristiwa-peristiwa penting lainnya seperti Proklamasi Kemerdekaan, Terbentuknya TKR sampai dengan Pertempuran 10 November di Surabaya. Di ruangan ini juga terdapat sebuah kaca bekas dari Gedung Bank Internatio yang dahulu berlokasi di Jembatan Merah Surabaya. Di dekat gedung ini pada zaman kemerdekaan terjadi insiden bersenjata antara pasukan Indonesia dengan tentara Inggris yang menyebabkan tewasnya salah satu Brigadir Jendral Inggris Tewas sehingga memicu terjadinya "Pertempuran 10 November" yang tiap tahun selalu diperingati sebagai "Hari Pahlawan".

Ruang awal Museum
Ruangan Diorama 1
"Proklamasi Kemerdekaan"
"Pembentukan BKR"



"Angkatan Muda Polisi Bergerak"
"Pembentukan TKR"

















"Pertempuran 10 November"
Kaca Gedung Bank Internatio
Di Ruangan berikutnya adalah Ruangan yang di khususkan untuk 4 orang besar di kemiliteran Indonesia. Yang Pertama adalah Ruangan Letnan Jendral Anumerta Oerip Soemohardjo dimana beliau merupakan seorang Jendral & kepala staff umum Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama pada masa perang kemerdekaan Indonesia. Ruangan ini berisi berbagai foto kegiatan Jendral Oerip semasa bertugas & barang-barang peninggalan beliau seperti Meja Kerja, Meja & kursi tamu serta barang-barang peninggalan lainnya yang digunakan pada saat beliau masih bertugas.

Lukisan Letnan Jendral Oerip Soemohardjo
Ruangan Jendral Oerip Soemohardjo 
Meja Kerja & Meja Kursi Tamu 











Plakat, Tanda Pangkat & Keris milik Jendral
Diruangan kedua adalah Ruangan Panglima Besar Jendral Soedirman yang merupakan seorang Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia & Menjadi sosok yang paling dihormati oleh rakyat Indonesia pada zaman perang kemerdekaan. Sama seperti Ruangan Jendral Oerip, Ruangan ini berisi berbagai foto pada saat beliau masih bertugas & barang-barang peninggalan beliau seperti Meja Tulis, Meja & Kursi Tamu, Tempat Tidur dan Baju yang digunakan oleh Jendral Soedirman. Oh iya yang menarik dari koleksi Jendral Soedirman adalah sebuah Tandu asli yang digunakan beliau pada saat memimpin perang gerilya & juga peta perjalanan gerilya beliau.

Ruangan Panglima Besar Jendral Soedirman
Meja Kerja,Meja Kursi Tamu & Tempat Tidur milik Jendral
Baju & Barang Pribadi milik Jendral 











Tandu Jendral Soedirman pada saat memimpin perang gerilya
Di Ruangan ketiga adalah Ruangan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution, seorang jendral yang menjadi salah satu saksi hidup dari pemberontakkan G30S PKI. Sama seperti ruangan sebelumnya ruangan ini berisi foto-foto beliau pada saat masih bertugas & juga Kemeja TNI beliau yang digunakan pada saat masih bertugas. Di ruangan ini pula terdapat tulisan yang tertera di sepanjang tembok yaitu Lima Sumpah Prajurit & Sapta Marga Yaitu 7 pasal yang harus dipatuhi oleh seluruh prajurit TNI.

Ruangan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution
Kemeja milik Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution
Bersebelahan dengan Ruangan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution, adalah Ruangan ke 4 yaitu Ruangan Jenderal Besar TNI Soeharto, Jendral Besar sekaligus Presiden ke-2 Republik Indonesia. Hampir sama dengan Ruangan Jendral Nasution, Ruangan ini berisi berbagai foto kegiatan Jendral Soeharto ketika masih bertugas & beberapa buku-buku dari beberapa penulis yang kebanyakan membahas mengenai biografi dari Jendral Soeharto. 

Ruangan Jenderal Besar TNI Soeharto
Kemeja milik Jenderal Besar TNI Soeharto
Setelah melewati Ruangan 4 Jendral, Traveler akan memasuki Ruangan Diorama ke 2. Di Ruangan ini menampilkan Diorama perjuangan TNI dalam masa kemerdekaan di berbagai daerah seperti pertempuran 5 hari di semarang, Peristiwa Bandung lautan api, Insiden Penurunan Bendera Belanda di Hotel Yamato dan lain-lain. Di ruangan ini juga terdapat berbagai macam model seragam BKR (Badan Keamanan Rakyat) & juga model seragam badan perjuangan lainnya. Di Ruangan ini selain menampilkan diorama & model seragam, Juga ada foto-foto perjalanan kontingen Garuda dalam misi PBB, Kontingen Garuda sendiri adalah perwakilan TNI yang dikirim ke daerah konflik dalam rangka misi perdamaian PBB. Selain foto juga ada seragam yang dikenakan oleh pasukan Garuda pada saat bertugas. Tidak hanya itu saja di ruangan ini juga ada penjelasan mengenai kepangkatan yang ada dalam ruang lingkup TNI beserta lencana-lencana kepangkatannya.

Ruangan Diorama 2
"Pertempuran 5 Hari di Semarang"
"Dapur Umum dalam perang kemerdekaan"









"Pertempuran Ambarawa"
"Pengumuman Proklamasi Di Medan"










"Bandung Lautan Api"
"Insiden Hotel Yamato Surabaya"










"Perebutan Pangkalan Udara di Malang" 
"Pertempuran Cibadak Sukabumi"










"Peristiwa 3 Daerah"
"Pertempuran Krueng Panju Aceh"










Seragam BKR
Seragam Badan-badan Perjuangan










Foto Perjalanan Kontingen GARUDA Misi PBB
Miniatur Monumen Palagan Ambarawa
Meja yang berisi macam-macam pangkat dalam TNI
Bersebelahan dengan Ruang Diorama 2, terdapat sebuah Ruangan yang bernama Ruangan Panglima TNI. Ruangan ini menyimpan berbagai macam koleksi dari para Panglima Tertinggi TNI dari masa ke masa serta foto-foto kegiatan mereka selama masih bertugas. Di ruangan ini juga ada lencana penganugerahan yang khusus diberikan oleh presiden Republik Indonesia.

Foto Para Panglima TNI dari masa ke masa
Ruangan panglima TNI
Setelah Traveler menjelajahi Ruangan Diorama, Saatnya Traveler menuju ke ruangan favorite saya di museum ini yaitu Ruangan Senjata. Diruangan ini tersimpan berbagai macam senjata yang digunakan oleh TNI dari zaman perang kemerdekaan sampai sekarang. Adapun senjata-senjata yang disimpan bermacam-macam jenisnya mulai dari dari Pistol, Senapan laras panjang, Senapan laras pendek, Senapan mesin otomatis, pelontar granat, Mortar, Meriam jarak jauh, Torpedo, Ranjau laut bahkan sampai golok & bambu runcing pun disimpan di ruangan ini. Senjata-senjata disini bermacam-macam ada yang merupakan hasil rampasan dari penjajah, sumbangan dari negara lain sampai senjata buatan dari dalam negeri.

Ruangan Senjata
Berbagai macam Senapan Mesin
Berbagai macam Senapan Laras Pendek











Berbagai Macam Artileri

Terpedo Stem
Terpedo & Ranjau Laut











Setelah melihat berbagai macam senjata di ruangan senjata, Traveler akan langsung diajak kembali menapak sejarah TNI di Ruangan Diorama 3 & 4. Ruangan ini terletak di gedung sebelah yang berhubungan langsung dengan gedung utama museum. Gedung ini sendiri terdiri dari 2 lantai yang berisi diorama perjalanan TNI & bebagai macam peristiwa penting seperti peristiwa pembebasan irian barat, Peristiwa G30S PKI, Penyambutan pahlawan DWI KORA Sidang Umum MPRS sampai dengan pelantikan Jendral Soeharto sebagai Presiden RI ke 2.

Lukisan Panglima Besar Jendral Soedirman
"Penyerahan Pasukan Pemberontak Ibnu Hajar"
"Pembebasan Kota Manado"









"Komando Mandala Pembebasan Irian Barat"
"Penerjunan Ditermina Buan"
"Tertangkapnya SM Kartosuwiryo"









"KRI Dewa Ruci melanglang buana"
"Tertembaknya Kahar Muzakar"
"Operasi Trisula di Blitar Selatan"









"Pengangkatan 7 Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya"
"Sidang Umum 4 MPRS
"Operasi Baruna"








"Penyambutan 2 Pahlawan Dwi Kora di Markas Besar TNI"
"Penumpasan Gerombolan PGRS Paraku"
"Trasnmigrasi ABRI keluar Jawa"










"Pengangkatan Jendral Soeharto sebagai Presiden ke 2 Indonesia"
Dari Ruangan Diorama 3 & 4, Traveler akan menuju ke ruangan terakhir yaitu Ruangan Seragam & Balairung Pahlawan. Di Ruangan Seragam, Traveler akan melihat berbagai macam seragam yang digunakan oleh anggota TNI dari zaman kemerdekaan sampai sekarang. Mulai dari seragam Angkatan Laut, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Polisi Militer dan lain-lainnya baik itu seragam Militer, Seragam Dinas maupun Seragam untuk Upacara penting. Tidak hanya seragam pria saja, Seragam untuk korps wanita juga ada di ruangan ini. Di ruangan berikutnya adalah Balairung Pahlawan. Ruangan ini berisi berbagai patung para Pahlawan Militer yang mendapatkan gelar Anumerta. Anumerta sendiri adalah gelar penghargaan khusus yang diberikan kepada Angkatan Bersenjata yang dianggap berjasa pada Negara, sesudah ia meninggal. Adapula para pahlawan tersebut ialah Panglima Besar Jendral Soedirman, Letnan Jendral Anumerta Oerip Soemohardjo  10 Pahlawan Revolusi (8 yang meninggal di jakarta & 2 yang meninggal di yogyakarta), I Gusti Ngurah Rai, Komodor Yos Sudarso dan lain-lain.

Ruang Seragam
Balairung Pahlawan
Patung Jendral Soedirman & Oerip Soemohardjo
Setelah Traveler menikmati area Indoor museum, Saat nya traveler menjelajahi area Outdoor dari museum ini. Bagian awal yang akan Traveler lihat adalah Replika dari Dermaga Mini Milik Armada Angkatan Laut Republik Indonesia. Meskipun hanya sebuah Replika, Adanya sebuah Misil & Ranjau laut membuat replika dermaga ini seolah-olah persis sekali seperti aslinya. Sayangnya replika dari dermaga tersebut sekarang telah beralih fungsi menjadi lapangan parkir. 

Replika Dermaga Armada Republik Indonesia
Dari Dermaga Mini, Traveler akan melihat sebuah taman yang bernama Taman Dirgantara. Taman ini sendiri sesuai namanya berisi berbagai macam Kendaraan udara yang pernah digunakan oleh TNI pada masanya. Adapun koleksi-koleksinya adalah Pesawat B-25-J"MITCHEL"asal Amerika, Pesawat Latih "CURENG" asal Jepang, Pesawat Tempur "NISHIKOREN" asal Jepang, Pesawat Tempur P-51 "MUSTANG" asal Amerika, Pesawat Anti Kapal Selam "GANNET" asal Inggris, Pesawat Udara RI - 001 yang merupakan pesawat penumpang pertama di indonesia, Pesawat Tempur AT-16 "HARVARD" asal Amerika & berbagai macam Pesawat lainnya yang pernah digunakan oleh TNI baik untuk berperang, kepentingan sosial seperti pertanian maupun untuk latihan penerbangan.

Taman Dirgantara
Pesawat B25-J "MITCHEL"
Pesawat Tempur "NISHIKOREN"
Pesawat Anti Kapal Selam "GANNET"











Pesawat Tempur P-51 "MUSTANG"

Pesawat Tempur AT-16 "HARVARD"
Pesawat Olahraga NU-25 "Kunang"











Pesawat Udara RI-001
Helikopter MI-4
Tidak jauh dari Taman Dirgantara, terdapat dua buah display outdoor yang menarik untuk dilihat. Display pertama menampilkan berbagai macam kendaraan Roda empat yang masing-masing memiliki sejarah & cerita yang menarik. Yang pertama adalah sebuah Sedan "Dodge Dart"(DD-1) yang digunakan oleh Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Kolonel M.Jusuf ketika berunding mengenai pemulihan keamanan di Sulawesi Selatan. Pada waktu itu mobil ini diserang oleh orang tak dikenal & meninggalkan bekas tembakan dibagian pintu kanan & kiri mobil. Yang kedua adalah sebuah Panser Rel yang digunakan sebagai pengawal perjalanan kereta api Bandung-Banjar dari gangguan gerombolan DI/TII. Yang terakhir adalah sebuah ambulance yang diberi nama "Ambulans Si Gajah" ambulance ini digunakan sebagai pengangkut korban-korban dari gerombolan DI/TII. Display kedua adalah display yang menampilkan berbagai macam meriam jarak jauh yang pernah digunakan oleh TNI dari masa ke masa.

Mobil Sedan Dodge Dart 1 (DD-1)
Panser Rel
Ambulans Si Gajah











Macam-macam Artileri
Sebenarnya museum SatriaMandala juga memiliki museum tambahan sekaligus perpustakaan. Tidak jauh dari Taman Dirgantara & masih satu komplek dengan Museum Satriamandala. Nama Museum ini adalah Museum Waspada Purbawisesa. Museum ini terdiri dari 3 lantai, Dimana Lantai 1 & 2 berisi segala hal yang berhubungan dengan Pemberontakan DI/TII sedangkan lantai 3 merupakan perpustakaan TNI. DI/TII sendiri yang berarti "Rumah Islam" adalah salah satu gerakan separatis yang bertujuan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia. Gerakan ini dalam perkembangannya tersebar ke berbagai wilayah penjuru indonesia seperti: Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Aceh dan Kalimantan. Museum ini sendiri berisi diorama mengenai pergerakan TNI dalam menumpas gerakan DI/TII ini. Selain itu juga ada berbagai macam atribut-atribut milik dari gerakan separatis ini seperti Bendera, Mata Uang, Senjata sampai Tanda Pangkat kemiliteran DI/TII juga ada di museum. Cuma karena waktu gw dateng banyak sekali diorama yang lampunya mati & keadaan museum yang cukup gelap sehingga banyak koleksi yang tidak terlihat dan tidak bisa gw foto. Jadi kalau Traveler penasaran dengan sepak terjang DI/TII atau Latar belakang berdirinya DI/TII maka museum ini wajib untuk dikunjungi.

Gedung Museum Waspada Purbawisesa
Lantai 1 Museum
"Kaderisasi Militer Pengikut DI/TII"
"Proklamasi NII oleh S.M Kartosuwiryo"











Bendera, Senjata & Pangkat DI/TII


Lantai 2 Museum
Lantai 2 Museum












"Peradilan S.M Kartosuwiryo"

Jam Buka & Harga Tiket 

Museum ini Buka dari hari selasa sampai dengan minggu dari Jam 09.00-15.30. Untuk hari senin & hari libur nasional museum ini tutup. Harga tiket masuk Rp.2.500 baik Dewasa maupun Anak-anak & apabila traveler membawa kamera untuk berfoto-foto maka akan dikenakan biaya sumbangan pemotretan sebesar Rp.5.000. FYI di both tiket juga menjual Stiker Museum SatriaMandala seharga Rp.3.000 MungkinTraveler tertarik untuk membelinya sebagai kenang-kenangan ^_^.

Akses menuju ke sana

Untuk akses menuju ke Museum SatriaMandala cukup mudah. Kalau Traveler menggunakan Busway, Traveler bisa menggunakan Busway Koridor IX yang melayani Tujuan Pluit-Pinang Ranti atau sebaliknya. Lalu turun di Halte Gatot Subroto LIPI, Kalau Traveler kelewatan bisa juga turun di Halte Gatot Subroto Jamsostek. Kalau Traveler dari arah BLOK-M traveler cukup transit di halte Bendungan Hilir setelah itu ikuti petunjuk transit Halte. Kalau Traveler Menggunakan Kereta, Traveler turun di stasiun sudirman & lanjut menggunakan Busway jurusan BLOK-M & Transit di Halte yang sama yaitu Bendungan Hilir. Kalau menggunakan mobil lebih enak lagi, Traveler ke arah Gatot Subroto, lalu putar balik di Putaran depan Balai Kartini.

So.....Para traveler yang ingin mengetahui mengenai sejarah dari TNI atau hanya sekedar ingin jalan-jalan maka museum ini bisa dijadikan salah satu alternative untuk dikunjungi. Kalau saran saya datangnya agak pagian dikit karena untuk menjelajahi museum ini butuh waktu yang cukup lama dikarenakan luasnya museum ini & banyaknya koleksi menarik untuk dilihat. Dan luangkan waktu yang agak lama di Ruangan Balairung Pahlawan, Entah kenapa ruangan ini membuat saya bangga sebagai warga negara Indonesia & Salut akan perjuangan pahlawan-pahlawan kita dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia (ini ngak lebay loh, pengalaman pribadi ^_^).

2 comments:

  1. Wah menarik ini museum, jadi pengen kesana...bisa guide saya kesana ga kak?

    ReplyDelete