Thursday, April 23, 2015

Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)


Siapa yang tidak kenal dengan museum ini, menurut saya hampir semua orang yang pernah ke kota tua ataupun ke Jakarta pastinya kenal dengan museum ini. Iya karena Museum Sejarah Jakarta merupakan museum yang menjadi icon dari Kota Tua yaitu kawasan di Jakarta yang memiliki berbagai macam gedung bersejarah. Selain Museum Sejarah Jakarta, museum ini juga dikenal dengan nama Museum Fatahilah yang diambil dari nama salah satu pahlawan Indonesia yang berhasil mengusir penjajah portugis dari pelabuhan sunda kelapa & mengganti namanya menjadi "Jayakarta" yang berarti kemenangan atau yang kita kenal sekarang menjadi "Jakarta". Museum ini terletak bersebelahan dengan Museum Seni dan Museum Wayang. Tepat di depan museum terdapat halaman yang luas dimana Traveler bisa berfoto-foto, menikmati jajanan makanan-makanan khas Jakarta seperti kerak telor, Es Selendang Mayang sampai dengan rental sepeda ontel hanya sekedar berkeliling sekitaran lapangan dengan harga yang terjangkau, pokoknya Kota Tua banget deh ^_^.

Sejarah Singkat

Dulunya sebelum menjadi museum, gedung ini merupakan gedung balai kota yang dibangun pada tahun 1620 atas perintah dari Gubernur Jendral Belanda pada saat itu, Gubernur Jan Pieterszoon Coen sebagai kantor pemerintahan Belanda, ruang pengadilan, dan ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai penjara. Pada tahun 1925-1942 gedung ini beralih fungsi menjadi Kantor Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, lalu pada tahun 1942-1945 saat zaman pendudukan tentara Jepang di Indonesia, digunakan sebagai kantor logistik Dai Nippon, Dan akhirnya berubah fungsi menjadi museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 maret 1974 oleh Gubernur Jakarta saat itu Bapak Ali Sadikin. Menjelajahi museum ini serasa kembali ke zaman kolonial belanda, karena di museum ini masih tersimpan barang-barang koleksi peninggalan zaman Belanda yang masih terawat rapih. 


Plakat Peresmian Museum Jakarta oleh Gubernur Ali Sadikin
Inside Museum


Seperti yang udah saya ceritakan di awal benda-benda koleksi di museum ini masih terawat rapi namun ada juga beberapa benda koleksi yg sudah kurang terawat dengan baik tapi masih cukup terawat. 

Museum ini terdiri dari 2 lantai dimana masing-masing lantai berisi barang-barang peninggalan zaman Belanda mulai dari kursi, meja, lemari, lukisan bahkan persenjataan yang masih terawat dengan baik. Menjelajahi tiap lantai, kita seperti diajak ke zaman Jakarta masih menggunakan nama Batavia, karena banyak sekali peninggalan-peninggalan zaman Belanda. FYI, Museum ini sekarang memiliki koleksi baru yaitu 2 buah diorama yang menggambarkan Peristiwa penangkapan Pangeran Wijayakrama dan Penyerangan Kraton Jayakarta. 


Depan Pintu Masuk Museum
Lukisan Perkembangan Batavia













Patung Singa
Lukisan "J.P Coen"
Maket atap Gereja












Diorama "Penangkapan Pangeran Wijayakrama"
Diorama "Penyerangan kraton Jayakarta"
Suasana Kota tua diambil dari lantai 2 museum


Ruangan di lantai 2 museum
Kamar di lantai 2 museum












Lukisan salah seorang gubernur jendral Belanda

Kunci & borgol untuk tahanan
Kapal (Nau) portugis












Contoh pakaian pelaut portugis
Sebelum menuju pintu keluar, Traveler akan melewati ruangan yang penuh dengan batu-batu besar. Batu-batu ini adalah replika dari prasasti yang sebenarnya. Adapun nama prasastinya seperti Prasasti Kebun Kopi yang ditemukan di perkebunan kopi milik salah seorang pengusaha belanda di daerah Ciaruteun llir, lalu ada juga prasasti ciaruteun yang menceritakan mengenai kerajaan Tarumanegara, Prasasti pasir awi yang ditemukan di daerah bogor dan Prasasti batu tulis yang ditemukan di sekitaran aliran sungai cisadane. Meskipun menggunakan bahasa jawa kuno tapi kita bisa mengetahui isi dari masing-masing prasasti melalui keterangan yang ada di museum.

Di halaman belakang museum terdapat taman yang cukup luas yang biasanya biasanya digunakan oleh pengunjung untuk berfoto-foto atau sekedar berkumpul sambil ngobrol-ngobrol. Selain itu ada juga toko yang menjual souvenir & cendramata khas Museum Sejarah Jakarta. Kalau Traveler belum sempat mencoba kerak telor & es selendang mayang yang dijual di sekitaran lapangan kota tua, di dalam museum juga terdapat beberapa penjual makanan tersebut. Di halaman belakang museum banyak sekali penjara bawah tanah. Memang dulu di museum ini selain menjadi pusat pemerintahan, gedung ini juga merupakan penjara. Konon para napi yang akan dihukum mati tepat di depan lapangan gedung ini akan dipenjarakan di penjara bawah tanah terlebih dahulu. Walaupun sudah tidak terlalu terawat, tetapi kesan penjaranya masih ada ini dikarenakan masih tercium bau yang menyengat dan masih adanya bola-bola besi yang digunakan sebagai pemberat kaki napi agar mereka tidak bisa kabur.


Halaman Belakang Museum

Penjara Wanita
Penjara Pria












Penjara Sumur

Jam Buka dan Harga Tiket

Sama seperti museum lainnya museum ini buka dari jam 09.00 - 15.00 & sama seperti museum lainnya di Jakarta setiap hari senin & hari libur nasional tutup. 

Harga tiket: 

Dewasa: Rp. 5.000
Mahasiswa: Rp. 3.000 
Pelajar & Anak-Anak: Rp. 2.000 

Untuk rombongan Min. 30 orang :
Dewasa: Rp. 3.750
Mahasiswa: Rp. 2.250 
Anak-Anak: Rp. 1.500 

Jadi bagi para traveler yang ingin tau seperti apa sejarah jakarta pada zaman dahulu maka museum ini pilihan yang tepat untuk dikunjungi. 

No comments:

Post a Comment