Thursday, October 12, 2017

Monas (Monument Nasional)


Siapa yang tidak mengenal ikon kota Jakarta ini. Monument Nasional atau yang lebih kita kenal dengan nama Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. selain sebagai monumen peringatan, monas juga merupakan lambang dari Ibukota Indonesia yaitu Jakarta sekaligus menjadi titik nol kota Jakarta yaitu sebuah lokasi yang digunakan sebagai panduan untuk pembangunan disuatu daerah.

Sejarah Singkat


Setelah pusat pemerintahan yang sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta kembali ke Jakarta & pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda, Presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno mulai merencanakan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan menara Eiffel di Paris Perancis yang lokasinya tepat di depan Istana Kepresidenan. Pembangunan monumen tersebut ditujukan untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia pada masa kemerdekaan dan membangkitkan semangat juang & patriotisme para generasi penerus.

Maka, pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara desain monumen pun digelar mulai tahun 1955. Selama berjalannya sayembara, sudah ada 51 desain yang masuk, akan tetapi hanya satu desain yang dipilih yaitu desain yang dibuat oleh Frederich Silaban. Setelah desain diberikan kepada Presiden Soekarno, beliau kurang menyukai desain tersebut dikarenakan selain Presiden menginginkan desain yang berdiri tinggi dan berbentuk cekung, juga karena biaya untuk membangun monumen tersebut cukup tinggi & pada saat itu keadaan perekonomian bangsa sedang buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil & menyarankan pembangunan ditunda sampai perekonomian negara membaik. Selanjutnya Soekarno meminta arsitek R.M Soedarsono untuk melanjutkan rancangan tersebut.

Pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan ditandai oleh penancapan pasak beton pertama oleh Presiden Soekarno maka dimulailah pembangunan monumen nasional yang di arsiteki oleh Frederich Silaban & R.M Soedarsono. Pembangunan terdiri dari 3 tahap, Tahap pertama adalah pemasangan pasak beton sebagai pondasi dari monumen yang selesai hingga tahun 1962 & pembangunan obelisk pun dimulai hinga rampung pada tahun 1963, Tahap kedua sempat kedua sempat tertahan akibat peristiwa Gerakan 30 September (liat artikel Monumen Pancasila Sakti) dan Tahap ketiga adalah menambahkan diorama yang berada dibawah monumen. Walaupun sudah rampung, masih saja ada kendala gedung seperti kebocoran air yang menggenangi museum. Akhirnya pada tahun 1975 Monumen Nasional akhirnya diresmi dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Presiden Soeharto. Lokasi pembangunan monumen juga berkali-kali mengalami perubahan nama mulai dari Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas & Taman Monas.

Inside The Museum


Untuk masuk ke kawasan monas, Traveler bisa melalui 4 pintu masuk yang pertama dari Jalan Merdeka Utara dimana pintu masuk terletak di depan Istana Negara, Jalan Merdeka Barat pintu masuk depan Patung Kuda Arjuna, Jalan Merdeka Selatan pintu masuk di parkiran IRTI dan yang terakhir di Jalan Merdeka Timur pintu masuk disebelah Stasiun Gambir. Ada dua alternatif untuk memasuki monumen yang pertama adalah berjalan kaki atau dengan menggunakan bus antar-jemput yang mengantarkan Traveler tepat kedepan pintu masuk monumen. Bus antar jemput ini gratis & hanya mengantarkan Traveler ke depan pintu masuk & kembali lagi ketempat awal yaitu di bagian silang barat daya monas atau lebih jelasnya di dekat parkiran IRTI. Oh iya diparkiran IRTI terdapat sebuah tempat yang bernama Lengang Jakarta. Misalkan Traveler ingin makan makanan khas jakarta atau berbelanja pernak-pernik yang berhubungan dengan Monas atau kota Jakarta bisa mampir ke tempat ini.

Bis Pengantar

Pintu masuk Monumen Nasional
Dari pintu masuk, Traveler akan melewati terowongan yang nantinya akan membawa Traveler tepat berada dibawah monumen.

Loket Tiket

Lorong menuju ke monumen
Sebelum masuk kedalam museum, Traveler akan melihat sebuah relief yang berada tepat di tiap sisi bagian dari monumen. Relief ini sendiri bernama Relief Sejarah Indonesia. Kalau Traveler penasaran untuk mengikuti kisah dari relief ini, Traveler bisa memulai dari bagian kanan yang ada patung gajah madanya lalu ikuti terus searah jarum jam.

Relief Sejarah Indonesia

Relief Sejarah Indonesia
Setelah melihat relief sejarah Indonesia, saatnya Traveler menggunjungi bagian museum dari monas yang dikenal dengan nama Museum Sejarah Nasional. Sesuai dengan namanya, museum ini menyimpan berbagai macam diorama perjalanan sejarah dari bangsa Indonesia dari tahun ketahun. Traveler bisa memulai dari Diorama sisi 1 dimana disini menampilkan Diorama masyarakat Indonesia Purba, pembangunan candi borobudur, sumpah palapa, pertempuran pembentukan Jayakarta, perang makasar dan lain-lain.

Museum Sejarah Nasional

Diorama Monumen Nasional

Masyarakat Indonesia Purba
Pembangunan Candi Borobudur












Sumpah Palapa
Peranan Pesantren











Perang Makasar
Sisi berikutnya yaitu Diorama sisi 2 sebagian besar menampilkan perjuangan para pahlawan sebelum kemerdekaan perlawanan Patimura, perang Diponegoro, Perang Imam Bonjol, Perang Aceh dan lain-lain sampai Diorama pada masa kebangkitan nasional seperti pergerakan Ibu Kartini, lahirnya organisasi Boedi Oetomo dan lain-lain.

Perang Diponegoro

Perang Imam Bonjol
Perang Aceh











Ibu Kartini

Kebangkitan Nasional

Taman Siswa
Dari diorama sisi 2, sekarang saatnya melihat Diorama sisi 3. Disini Traveler bisa melihat lanjutan dari pergerakan Nasional seperti lahirnya Muhammadiyah, Perhimpunan Indonesia, STOVIA, lahirnya Sumpah Pemuda, Pemberontakan PETA hingga Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan Pertempuran 10 November.

Berdirinya Muhammadiyah

Perhimpunan Indonesia

STOVIA











Lahirnya Sumpah Pemuda

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Pengesahan Pancasila & UUD 45
Hari Lahir ABRI











Pertempuran 10 November 1945
Dari diorama sisi 3, saatnya kita melihat Diorama sisi 4. Di sisi ini kita melihat perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Mulai dari perang gerilya, pengakuan kedaulatan RI, Indonesia menjadi anggota PBB, Konfrensi Asia-Afrika, Pemilihan Umum untuk pertama kalinya, Peristiwa Gerakan 30 September hingga lahirnya Super Semar (Surat Perintah Sebelas Maret).

Pengakuan Kedaulatan Indonesia

Indonesia menjadi anggota PBB
Pemilu Pertama Indonesia











Konfrensi Asia-Afrika

Hari Kesaktian Pancasila
Diorama terakhir yang dikunjungi adalah Diorama Sisi 5 dimana menampilkan beberapa peristiwa penting seperti Konfrensi Tingkat Tinggi Negara Non-Blok, keberhasilan CN-250 yaitu pesawat buatan Indonesia dan lain-lain. Oh iya disini juga terdapat maket dari Kawasan Monas & sekitarnya.

Konferensi Tingkat Tinggi Negara Non-Blok 

Alih Teknologi
Setelah menjelajahi Museum Sejarah Nasional, tempat berikutnya yang Traveler datangi adalah Ruang Kemerdekaan. Ruangan yang berada di bagian cawan monumen ini atau tepat berada di atas Museum Sejarah Nasional adalah ruangan yang menyimpan simbol kenegaraan & kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya Naskah Proklamasi asli yang merupakan hasil ketikan dari Sayuti Melik yang disimpan didalam sebuah pintu hijau berornamen emas, lambang negara Indonesia Burung Garuda, peta kepulauan Indonesia berlapis emas dan dinding yang bertulis naskah proklamasi kemerdekaan. Fungsi dari ruangan ini sendiri sebagai ruang tenang untuk menghentikan cipta untuk mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia.

Dari ruangan kemerdekaan, apabila Traveler ingin melihat suasana kota Jakarta dari pelataran atas tugu ini, Traveler bisa ikut mengantri menuju ke puncak monumen. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut. Di pelataran puncak, Traveler bisa melihat pemandangan kota Jakarta cukup luas atau menggunakan teropong panorama. Sedikit saran dari saya apabila Traveler ingin naik kebagian atas monas, Traveler bisa datang lebih pagi ini dikarenakan banyaknya pengunjung yang ingin naik keatas & kapasitas lift yang hanya memuat 11 orang saya sempat bertanya pada salah satu pengunjung yang sudah menunggu selama 1 Jam hanya untuk naik keatas monumen.

Pintu Masuk Puncak Monumen

Jam Buka & Harga Tiket 

Monumen & Museum ini Buka setiap hari mulai pukul 08.00-15.00. Hari senin & hari libur nasional museum ini tutup. Pada senin pekan terakhir yiap bulannya tutup untuk umum. Untuk masuk museum ini, Traveler diwajibkan memiliki Kartu Jakcard yaitu kartu prabayar yang diterbitkan oleh Bank DKI sebagai pembayaran alat non-tunai. Apabila Traveler belum memiliki kartu tersebut, Traveler bisa membeli di loket tiket atau di Halte Busway dengan harga Rp. 60.000 dengan isi saldo Rp.50.000. 

Harga tiket: 

Dewasa:
Cawan: Rp. 5.000
Puncak: Rp. 10.000 
Total: Rp. 15.000

Anak-Anak :
Cawan: Rp. 2.000
Puncak: Rp. 2.000 
Total: Rp. 4.000

Mahasiswa :
Cawan: Rp. 3.000 
Puncak: Rp. 5.000 
Total: Rp. 8.000

Apabila Traveler hanya ingin mengunjungi bagian cawan saja tanpa naik ke puncak monumen, Traveler bisa hanya membayar untuk tike ke bagian cawan saja.

Akses menuju ke sana

Banyak sekali transportasi yang bisa Traveler gunakan untuk pergi ke monumen ini. Tapi kalau ingin merasakan sensasi jalan-jalan ala backpacker, saya sarankan untuk menggunakan BUSWAY/TRANSJAKARTA yaitu Koridor 1 jurusan BLOK M – KOTA dan turun di Halte monumen nasional yang haltenya tepat di samping museum gajah.

Atau bisa juga menggunakan kereta kalau patokannya adalah rumah saya dari arah Bintaro, Traveler naik dari stasiun Pondok Ranji lalu turun di stasiun Tanah Abang dan lanjut ke peron tiga turun di stasiun Sudirman dan setalah itu Traveler bisa memilih berbagai macam akses kendaraan umum dari busway, metro mini, taksi, DLL. Kalau ojek juga bisa tapi akan melewati jalur tanah abang karena motor dilarang masuk Thamrin ^_^. Atau kalau Traveler turun di Stasiun Juanda, Traveler bisa menggunakan Bus Pariwisata dari Halte Masjid Istiqlal karena semua rute dari bis ini melewati kawasan monas.

Monday, October 2, 2017

Museum Jendral Besar DR. A.H. Nasution


Masih dalam rangka Hari Kesaktian Pancasila, beberapa waktu yang lalu kita sudah membahas mengenai Sasmitaloka Ahmad Yani sekarang kita membahas menganai Museum Jendral Besar DR.  Abdul Haris Nasution (Disingkat A.H. Nasution). Sama seperti Sasmitaloka Ahmad Yani, museum yang terletak di Jalan Teuku Umar No. 40 ini juga menjadi saksi bisu kekejaman dari gerombolan G.30S/PKI.


Patung Jendral A.H. Nasution
Sejarah Singkat


Sebelum menjadi museum, Rumah ini sebelumnya merupakan kediaman pribadi dari Jendral A.H Nasution sejak beliau menjabat sebagai KSAD (Kepala Staff TNI Angkatan Darat) hingga wafatnya beliau pada tanggal 6 September tahun 2000. Selanjutnya pihak keluarga pindah rumah & merenovasi rumah tersebut walaupun ada beberapa bagian yang tetap di pertahankan keasliannya. Setelah di renovasi, bertepatan dengan lahirnya Jendral A.H. Nasution (3 Desember 2008) rumah tersebut  dijadikan museum & diresmikan menjadi oleh Presiden Indonesia saat itu Bapak Susilo bambang Yudhoyono.

Di rumah inilah juga terjadi sebuah peristiwa yang tragis yang hampir merengut nyawa sang jendral. Pada malam 1 Oktober 1965 gerombolan G.30S/PKI berupaya menculik & membunuh beliau, namun hal itu gagal dilakukan. Sayangnya peristiwa tersebut merenggut nyawa putri beliau Ade Irma Suryani yang tidak sengaja tertembak dan ajudan beliau Kapten Piere Andreas Tendean yang ditangkap oleh para gerombolan penculik karena mengira dirinya adalah sang jendral dan akhirnya tewas di Lubang Buaya bersama para 6 Pahlawan Revolusi lainnya.

Inside The Museum

Ruangan pertama yang dikunjungi pertama kali oleh Traveler adalah Ruang Tamu. Di ruangan inilah biasanya Jendral A.H. Nasution menerima tamu-tamunya. Di ruangan ini terdapat berbagai macam koleksi seperti meja & kursi tamu, patung dada Jendral A.H. Nasution, beberapa foto kenangan dan berbagai macam koleksi cinderamata seperti miniatur meriam & tank, beberapa plakat penghargaan dan gading gajah kenang-kenangan dari brigade Garuda III.

Ruang Tamu
Patung Dada Jendral A.H. Nasution
Meja-kursi ruang tamu
Meja-kursi ruang tamu










Gading gajah kenang-kenangan dari Brigade Garuda III
Dari ruang tamu, ruangan berikutnya adalah Ruangan Kerja. D ruangan inilah tempat dimana Jendral A.H. Nasution menjalankan tugasnya sebagai Staff TNI Angkatan Darat. Di ruangan ini terdapat berbagai macam koleksi buku-buku milik Jendral A.H. Nasution, meja-kursi & manekin bapak ketika bekerja, foto kenang-kenangan dan beberapa piagam penghargaan.

Ruang Kerja
Piagam dari Universitas Islam Sumut
Piagam dari Universitas Negeri Padang












koleksi buku-buku karya Jendral A.H. Nasution
Dari ruang kerja, ruangan berikutnya adalah Ruang Tamu VIP. Di ruangan inilah biasanya Jendral A.H. Nasution menerima beberapa tamu pentingnya. Sama seperti ruang tamu depan, di ruangan ini juga terdapat berbagai macam koleksi seperti beberapa meja & kursi, benda kenang-kenangan & koleksi foto.

Meja-kursi ruang tamu VIP
Sambil menuju ruangan berikutnya, Traveler akan melihat beberapa manekin Tjakrabirawa. Manekin ini memperlihatkan diorama peristiwa pada saat terjadinya penculikan di malam 1 Oktober. Di sepanjang jalan juga terdapat berbagai macam foto-foto Jendral A.H. Nasution pada saat masih bertugas.

Hall Rumah
Manekin pengrebekan oleh Tjakrabirawa
Ruangan berikutnya adalah Ruang tidur. Di ruangan inilah terjadinya peristiwa tragis dimana Ade Irma Suryani Nasution putri dari Jendral A.H. Nasution tertembak oleh gerombolan penculik yang memaksa masuk ke kamar tidur jendral. Ini bisa dilihat dari adanya bekas lubang peluru yang terdapat di pintu masuk kamar & meja kecil yang ada di dalam kamar. Adapun koleksi yang ada di ruangan ini seperti tempat tidur asli, foto-foto kenangan, lemari pakaian yang berisi pakaian Jendral A.H. Nasution, koleksi sepatu dan kursi-meja yang terdapat bekas peluru serta manekin Jendral A.H. Nasution yang menggambarkan beliau pada saat terjadinya peristiwa penculikan.

Ruang Tidur

Lemari Pakaian

Lemari Sepatu















Kursi & meja yang ada bekas peluru
Pintu kamar dengan bekas peluru
Dari ruang berikutnya Ruang Gamad (Seragam Angkatan Darat). Sesuai dengan namanya, ruangan ini menyimpan berbagai macam koleksi seragam angkatan darat yang pernah digunakan oleh Jendral A.H. Nasution dan beberapa koleksi tongkat komando yang pernah beliau gunakan. Di ruangan ini juga terdapat manekin diorama pada saat Jendral A.H. Nasution melarikan diri dari para penculik dengan memanjat tembok rumah sambil melihat ke sang istri (Johanna Sunarti nasution) & anaknya yang terkena tembak.

Ruang Gamad
Seragam Jendral A.H. Nasution
Seragam Jendral A.H. Nasution










Koleksi tongkat komando
Manekin diorama Jendral A.H. Nasution melarikan diri 
Dari ruangan gamad, ruangan berikutnya adalah Ruang Senjata. Sesuai dengan namanya, ruangan ini menyimpan berbagai macam koleksi senjata mulai dari senjata tradisional kenang-kenangan dari berbagai daerah Indonesia, senjata api koleksi Jendral A.H. Nasution dan senjata yang digunakan oleh para penculik untuk menembak Ade Irma Suryani.

Ruang Senjata
Koleksi senjata daerah
Koleksi senjata api











Senjata yang digunakan untuk menembak Ade Irma
Dari ruang senjata, ruangan berikutnya adalah Ruang Ade Irma. Sesuai dengan namanya ruangan ini berisi berbagai macam barang-barang yang dimiliki oleh Ade Irma Suryani. Selain barang-barang pribadi, di ruangan ini terdapat dipan & tongkat yang pernah digunakan untuk merawat Jendral A.H. Nasution, baju & cruk yang digunakan Jendral A.H. Nasution untuk melepas jenazah Pahlawan Revolusi dan beberapa pakaian milik jendral A.H. Nasution & juga Ade Irma Suryani. Di ruangan ini juga terdapat foto terakhir Ade Irma Suryani bersama dengan Piere Tendean.

Ruang Ade Irma

Seragam Ade Irma
Pakaian milik Jendral A.H. Nasution










Dipan & tongkat
Lukisan Ade Irma Suryani
Dari ruangan ade irma, ruangan berikutnya adalah Ruang Makan. Di ruangan inilah ibu Nasution bertemu dengan para penculik sambil mengendong anaknya yang berlumuran darah akibat tertembak oleh gerombolan penculik. Ini bisa dilihat dari diorama manekin yang memperlihatkan sosok ibu nasution mengendong Ade Irma Suryani yang berlumuran darah sedang bertemu dengan para penculik yang menodongkan senjata ke arahnya sambil menanyakan keberadaan Jendral A.H. Nasution. Koleksi yang ada di ruangan ini diantaranya meja makan keluarga, beberapa koleksi plakat, koleksi cawan & cangkir, koleksi piring makan, lukisan dan beberapa pernak-pernik lainnya.

Ruang Makan
Meja makan keluarga
Lukisan Perang
Dari ruang makan, ruangan berikutnya adalah Ruang Heraldika (Tanda Jasa & Tanda Pangkat). Seusai dengan namanya ruangan ini berisi berbagai macam koleksi Tanda Jasa & Tanda Pangkat yang pernah diterima oleh Jendral A.H. Nasution.

Koleksi Tanda Jasa Jendral A.H. Nasution
Koleksi Tanda Jasa

Koleksi Tanda Jasa















Dari ruang heraldika, kita menuju halaman belakang rumah. Di halaman belakang rumah terdapat mobil dinas milik Jendral A.H. Nasution yang digunakan selama beliau menjabat. Diarah pintu keluar, Traveler bisa melihat lukisan relief perjalanan hidup Jendral A.H. Nasution mulai dari kecil hingga beliau wafat.

Halaman belakang & mobil dinas Jendral A.H. Nasution
Relief perjalanan hidup Jendral A.H. Nasution
Dari halaman belakang, Traveler bisa melihat sebuah rumah kecil yang ada di depan museum. Rumah ini dulunya merupakan rumah tempat tinggal dari para ajudan Jendral A.H. Nasution. Dirumah ini pula lah Kapten Piere Andreas Tendean ditangkap oleh gerombolan penculik yang mengira dirinya adalah Jendral A.H. Nasution. Sekarang rumah ini menjadi tempat diorama "Penculikan Piere Tendean".

Rumah Ajudan
Diorama tertangkapnya Piere Tendean
Di sebelah rumah ini terdapat ruangan kecil yang bernama Ruangan Diorama. Di ruangan ini, Traveler bisa melihat perjalanan karir militer dari Jendral A.H. Nasution mulai dari peristiwa Bandung Lautan Api, Hijrah Siliwangi, Agresi Milter Belanda ke 2 dan Sidang MPRS.

Ruang Diorama

Jam Buka & Harga Tiket


Museum ini buka dari jam 08.00 - 16.00 & sama seperti museum lainnya di Jakarta setiap hari senin & hari libur nasional tutup. Masuk Museum ini tidak mengenakan biaya alias gratis

Akses menuju ke sana

Akses paling mudah ke museum ini adalah dengan mengunakan kereta KRL Commuter Line. Traveler turun di stasiun Gondangdia, dari sini Traveler bisa berjalan kaki menyusuri Jalan Teuku Umar. Kalau menurut saya lokasi Museum tidak terlalu jauh dari Stasiun gondangdia & suasana Jalan Teuku Umar juga sangat sejuk karena dikelilingi pohon yang besar. Tapi kalau Traveler tidak suka jalan kaki, Traveler bisa menggunakan Jasa Ojek Online yang ada disekitaran stasiun.

"Jika keadilan tidak dijamin. Maka, siapa saja bisa mengacau. Ini adalah Manifestasi dari ketidakadilan." (Jendral Abdul Haris Nasution 1997)