Wednesday, April 5, 2017

Monumen Palagan Lengkong/Serpong (Peristiwa Lengkong)


Sebagian Traveler mungkin tidak pernah mendengar Peristiwa Lengkong yang terjadi di daerah Serpong atau mungkin tidak sama sekali pernah mendengar. Tapi bagaimana dengan nama Daan Mogot...??? pasti Traveler pernah mendengarnya sebagai nama jalan yang terbentang dari Grogol Jakarta Barat sampai dengan Tanggerang. Lalu apa hubungannya Peristiwa Lengkong dengan Daan Mogot...??? Karena dalam peristiwa tersebut gugur seorang pahlawan yang bernama Mayor Elias Daniel Mogot atau lebih kita kenal dengan nama "Daan Mogot". Tepat di tempat tersebut didirikan Monumen Peristiwa Lengkong & sebuah gedung yang merupakan saksi bisu terjadinya Tragedi tersebut.

Behind The History

Setelah pemerintahan sipil di Tanggerang pulih (akibat dari perang kemerdekaan Indonesia), dibentuklah resimen 4 Tangerang yang memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang berhubungan dengan pertahanan. Dalam hal ini Tangerang masih terdapat markas pasukan Jepang yang cukup besar dengan persenjataan yang kuat. Markas Jepang ini terletak di daerah Lengkong Wetan Kecamatan Serpong (mungkin kalo sekarang kita lebih mengenalnya dengan BSD atau Serpong saja) yang berjarak sekitar 15 KM dari Kota Tangerang dan markas tersebut berada di bawah pengawasan tentara NICA (Belanda & Sekutunya) yang berada di Bogor.

Tersiarnya kabar bahwa Belanda yang berkedudukan di Bogor akan menduduki Parung, kemudian lengkong, mengancam kedudukan TKR di Tangerang. Dalam meminimalkan ancaman tersebut serta menambah pasokan senjata, dibentuklah sebuah tim pasukan khusus yang dipimpin oleh Mayor Daan Mogot dengan berkekuatan 70 Kadet Tangerang & 8 Tentara Gurkha (Tentara Inggris yang berkebangsaan India). Strategi ini dilakukan untuk mendahului agar senjata tentara Jepang yang sudah menyerah tidak jatuh ke tangan tentara sekutu.

Setelah melalui perjalanan yang berat & cukup melelahkan dengan melewati berbagai macam barikade-barikade, lubang-lubang perangkap Tank, serta keadaan jalan yang rusak parah, akhirnya pasukan TKR tiba di markas Jepang yang terletak di Lengkong. Di markas tersebut, Mayor Daan Mogot beserta beberapa perwira disambut oleh pemimpin dari markas tersebut yaitu Kapten Abe.

Di dalam markas, Mayor Daan Mogot  menjelaskan maksud & tujuan kedatangan kepada Kapten Abe. Kapten Abe menyetujui kesepakatan yang dibuat antara kedua belah pihak namun meminta waktu untuk menghubungi atasannya yang ada di Jakarta karena dia belum mendapatkan perintah dari atasannya di Jakarta untuk melakukan penyerahan senjata. Sembari menunggu kabar dari Jakarta, beberapa perwira TKR sudah melucuti beberapa senjata milik Jepang & mengumpulkan seluruh tentara yang ada di markas tersebut di lapangan.

Kemudian secara tiba-tiba terdengarlah bunyi letusan senjata, yang tidak diketahui dari mana arah datangnya. Setelah itu disusul dengan rentetan peluru yang berasal pos penjagaan yang disembunyikan & diarahkan kepada prajurit TKR yang sekitaka situasi menjadi panik. Tentara Jepang yang tadinya sedang berkumpul di lapangan tiba-tiba berhamburan & merebut kembali senjata mereka yang baru saja dilucuti dan dalam waktu singkat terjadilah pertempuran.

Pertempuran tersebut sangat tidak imbang di pihak TKR, ini dikarenakan pengalaman tempur tentara Jepang yang sudah berpengalaman serta serangan yang tiba-tiba datang entah darimana. Selain senapan mesin, juga terjadi pelemparan granat serta perkelahian sangkur satu lawan satu.

Mayor Daan Mogot yang tadinya berada di dalam gedung segera berlari keluar dan berupaya menghentikan pertempuran tersebut, namun upaya tersebut tidak berhasil. Ia memerintahkan seluruh kadetnya untuk mundur kedalam hutan karet yang berada di sekitar markas. Namun nasib naas menimpa beliau, beliau terkena tembakan di paha kanan & dada. Namun ketika melihat salah satu anak buahnya tewas, ia kemudian mengambil senjata mesin & menghujani tentara Jepang dengan tembakan kesegala arah hingga akhirnya beliau dihujani peluru oleh tentara Jepang dari berbagai penjuru.

Akhirnya pertempuran tersebut berakhir, sebanyak 33 prajurit & 3 perwira tewas termasuk Mayor Daan Mogot. 10 Prajurit luka-luka sedangkan 20 lainnya ditahan oleh pihak Jepang. 3 Prajurit berhasil melarikan diri & tiba di Markas TKR tangerang pada keesokan harinya. Beberapa tentara yang terluka parah oleh pihak Jepang disiksa hidup-hidup & sebagian lagi ditawan & dipaksa untuk menggali kuburan rekannya sendiri.

Pada tanggal 29 Januari 1946, Diselenggarakan kembali pemakaman Mayor Daan Mogot termasuk 36 Jenazah yang gugur dalam Peristiwa Lengkong. Mereka dimakamkan di lokasi dekat penjara anak-anak Tangerang yang sekarang menjadi Taman Makam Pahlawan Taruna.

Historical Site

Sekarang tepat di tempat Peristiwa Lengkong dibangun Monumen Peringatan Peristiwa Lengkong. Di Monumen ini tertulis Kronologi Peristiwa Lengkong, penggalan lagu "Pahlawan Lengkong" dan nama-nama anggota TKR yang Tewas dalam peristiwa lengkong termasuk Mayor Daan Mogot. Selain monumen juga ada sebuah rumah yang merupakan bekas markas tentara Jepang pada saat terjadinya Peristiwa berdarah tersebut.

Monument Peristiwa Lengkong

Nama Para Korban Peristiwa Lengkong

Rumah Bekas Markas Tentara Jepang

Bagian Belakang Rumah
Akses menuju ke sana

Untuk menuju monumen lengkong sangat mudah walaupun tempatnya sangat terpencil. Monumen ini terletak di daerah BSD City Tangerang Selatan atau lebih tepatnya kalau dari perempatan BSD mal Traveler menuju ke arah Damai Indah Golf atau Jln. BSD Raya Barat. Monumen tepat berada di samping kanan Jalan.

Jalan di samping Monumen

Monday, April 3, 2017

Balai Kota Jakarta


Jakarta sekarang punya objek wisata baru. Mungkin sebagian Traveler belum pernah mendengarnya, sekarang Balai Kota di Jakarta yang terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan & menjadi kantor gubernur & wakil gubernur sekarang bisa dikunjungi & menjadi objek wisata sejarah di Jakarta.

Sejarah singkat


Balai Kota Di Jakarta memiliki sejarah yang unik di setiap zamannya. Pada zaman pendudukan Belanda sebelum di gedung yang sekarang, Balai Kota selalu berpindah-pindah. Gedung pertamanya terletak di Jakarta Barat yang lebih tepatnya di Kota Tua dimana gedung yang sekarang menjadi Museum Fatahilah dahulunya merupakan Kantor Balai Kota Pertama di Jakarta. Namun akibat perkembangan kota Jakarta (yang pada zaman Belanda disebut Batavia) cenderung mengarah ke Selatan, maka kantor Balai Kota pun dipindahkan ke daerah yang dikenal dengan nama Weltevreden yaitu daerah tempat tinggal orang eropa yang letaknya di sekitaran Sawah Besar sampai ke gedung Museum Gajah. Gedung Balai Kota pun berpindah ke Tanah Abang West (Sekarang Jalan Abdul Muis No.35 Jakarta Pusat) hingga akhirnya dipindahkan lagi Koningsplein Zuid (Sekarang Jalan Merdeka Selatan) hingga sampai saat ini.

Pada masa pendudukan Jepang, Balai Kota berganti nama menjadi Jakarta Tokubetsusi dengan kepala pemerintahnya disebut sityoo. Setelah Indonesia Merdeka, berganti nama lagi menjadi Pemerintahan Nasional Kota Djakarta. Sementara itu, kantornya disebut Balai Agung Pemerintahan Nasional Kota Djakarta dengan Walikota pertamanya Bapak Soewirjo. 

Sekitar tahun 1954, Kantor Balai Kota diperluas dengan penambahan gedung. Sehingga Kantor Balai Kota memiliki dua buah gedung sampai sekarang. Gedung Kantor Komisaris Tinggi Kerajaan Belanda yang berada tepat disamping gedung Balai Kota juga digunakan sebagai kantor pemerintahan & berfungsi sebagai kantor pemerintah bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong. 

Pada perkembangan selanjutnya, gedung ini mengalami perluasan & penambahan gedung-gedung baru & akhirnya di era pemerintahan Bapak Basuki Tjahja Purnama (Pak Ahok), Balai Kota menjadi objek wisata umum yang dibuka pada hari sabtu & Hari Minggu.

Inside Balai Kota

Gedung Balai Kota Jakarta memiliki bentuk yang mirip sekali dengan rumah belanda. Bagian awal yang Traveler kunjungi adalah Pendopo Balai Kota. Disini, Traveler bisa istirahat sejenak dengan duduk di kursi yang tersedia. Biasanya di tempat ini Pak Ahok menemui beberapa warga Jakarta yang ingin menyampaikan keluhannya secara langsung kepada bapak. Di tempat ini juga terdapat sebuah layar LCD yang menampilkan profile dari gubernur-gubernur Jakarta & Sejarah Balai Kota.


Pendopo Balai Kota
Dari pendopo Balai Kota, Ruangan berikutnya adalah Ruangan Awal. Di ruangan ini selain terdapat berbagai macam furniture, Di ruangan ini juga terdapat meja congklak yaitu permainan tradisional Indonesia. Tidak jauh dari ruangan awal terdapat ruangan yang biasa digunakan Pak Gubernur untuk menerima tamunya. selain itu juga terdapat ruangan yang kecil yang menampilkan foto-foto gubernur dari masa ke masa.


Ruang Depan
Meja Conglak
Ruang Pertemuan
Ruang Tamu
Ruang Tamu












Dari Ruangan Awal, Berikutnya ruangan yang Traveler kunjungi adalah Ruangan Tengah. Di ruangan ini terdapat sebuah Replika Al-Quran Mushaf Jakarta & penggalan surat Al-Baqarah. Selain itu juga terdapat Hiasan yang berbentuk seperti lambang kota Jakarta yaitu Tugu Monas, Skema perkembangan pembangunan MRT Jakarta, Ruangan Kecil & Poster sejarah perkembangan Jakarta beserta Gubernur & Wakil Gubernur saat ini Yaitu Bapak Ahok & Bapak Djarot.


Ruang Tengah
Penggalan surat Al-Baqaroh
Replika Al-Quran Mushaf Jakarta 
Skema progres MRT
Poster Sejarah Balai Kota
Ruang Kecil
Dari Ruang Tengah, Ruangan berikutnya adalah Balai Agung. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat untuk mengadakan rapat-rapat penting, pelantikan Gubernur baru serta acara-acara penting lainnya.


Tangga menuju Balai Agung
Balai Agung
Traveler pernah mendengar Jakarta Smart City..??? Jakarta Smart City adalah penerapan konsep kota cerdas yang mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi & komunikasi untuk mengetahui, memahami dan mengendalikan berbagai sumber daya di dalam kota dengan lebih efektif-efisien demi memaksimalkan pelayanan publik, memberikan solusi, penyelesaian masalah dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Dengan aplikasi ini, masyarakat bisa melaporkan keluhannya tentang kota Jakarta secara langsung dengan via apapun mulai dari sosial media (Instagram, email, Facebook DLL) ataupun telephone langsung tanpa harus datang langsung ke Balai Kota mulai dari permasalahan jalan rusak, banjir, macet, keluhan bus transjakarta lampu jalan mati, keluhan sosial, sampai dengan permasalahan harga tanah & pangan di Jakarta. Kenapa kita membicarakan Jakarta Smart City...???, karena kantor Jakarta Smart City terletak didalam Balai Kota, Tepatnya di lantai 3. Di lantai ini, Traveler bisa melihat kantor dari Jakarta Smart City sampai dengan kegiatan dari Jakarta Smart City secara langsung. 

Jakarta Smart City
Kantor Jakarta Smart City
Ruang Panel Jakarta Smart City
Jam Buka

Balai Kota buka hari Sabtu dan Minggu dari Pukul 09.00-17.00. 

Akses menuju ke sana

Akses paling mudah menuju balai kota adalah menggunakan bus tingkat, karena hampir semua rute bus tingkat pasti melewati Balai Kota.

Sunday, July 17, 2016

Museum Etnobotani Indonesia (Herbarium Bogoriense)


Etnobotani berasal dari dua kata yaitu Etnonologi & Botani dimana kalau etnologi berarti ilmu mengenai budaya sedangkan botani berarti ilmu tumbuhan. Jadi kalau digabungkan Etnobotani ialah ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara manusia dengan tumbuh-tumbuhan. Nah itulah kira-kira tema dari museum yang terletak di daerah Bogor, tepatnya di Jalan Ir. H. Juanda No.22 Bogor Jawa Barat ini. Disini, Traveler bisa mempelajari hubungan antara manusia dengan tumbuhan khususnya yang berada di kepulauan Indonesia ini.

Sejarah Singkat

Gagasan pendirian museum ini mula-mula dicetuskan oleh Prof. Sarwono Prawihardjo yang ketika itu menjabat sebagai ketua LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang bertepatan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung baru Herbarium pada tahun 1962. Tetapi gagasan tersebut baru mulai dipikirkan serta dilanjutkan kembali ketika DR. Setiaji Sastrapradja memegang jabatan Direktur LBN (Lembaga Biologi Nasional) pada tahun 1973. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya museum tersebut dapat terwujud & diresmikan pada tahun 1982 oleh Menristek Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie. Dengan tema Museum Etnobotani Indonesia "Pemanfaatan Tumbuhan Indonesia".


Inside The Museum

Masuk museum ini seolah-olah Traveler berada di dunia tumbuh-tumbuhan. Di Lobby museum Traveler akan melihat sebuah relief yang menggambarkan evolusi dari tumbuhan.


Lobby Museum
Relief Evolusi Tumbuhan
Dari lobby museum, Traveler akan melihat Ruang Foto Bogor Tempoe Doeloe. Di ruangan ini, Traveler bisa melihat koleksi foto hitam putih dari Kota Bogor yang diambil sekitar tahun 1920 sampai 1930-an. Selain beberapa koleksi foto juga terdapat beberapa koleksi etno botani seperti Batik yang dibuat menggunakan pewarna alami dan Macam-macam Padi beserta hasilnya.

Ruang Foto Bogor Tempoe Doeloe
Koleksi Batik Pewarna Alami
Padi & Olahannya











Dari ruangan foto, ruangan berikutnya adalah Ruangan Keanekaragaman Rempah-rempah. Di ruangan ini Traveler bisa menemukan berbagai macam rempah-rempah yang digunakan untuk berbagai macam keperluan mulai dari bahan pangan sampai dengan obat-obatan.


Ruang Keanekaragaman Rempah-rempah
Bahan Obat & Rempah
Macam Rempah 




Macam Bahan Pangan
Dari ruang rempah-rempah, Traveler akan menyusuri lorong dimana lorong tersebut terdapat berbagai macam kerajinan daerah yang terbuat dari rotan mulai dari hiasan, alat memancing, alat musik sampai alat-alat yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Lorong Museum
Keranjang Rotan
Kerajinan Rotan











Jarei & Lanjung
Ceraken & sampan





Seu Bogoa & Kulintang
Sembari melewati lorong museum, Traveler juga bisa melihat beberapa ruangan. Ruangan pertama yang Traveler lihat adalah Ruangan Kerja Tempoe Doeloe. Ruangan ini dulunya adalah ruangan yang digunakan untuk melakukan proses pembuatan spesimen herbarium. Di ruangan ini, Traveler bisa melihat foto kepala Herbarium bogor dari masa ke masa, alat-alat yang digunakan dalam proses Herbarium dan beberapa sample Herbarium mulai dari proses awal sampai dengan tahap akhir.

Ruang Kerja Tempoe Doeloe
Meja Pembuatan Label
Meja Identifikasi








Foto Kepala Herbarium Bogoriense dari masa ke masa
Foto Proses Pembuatan Specimen Herbarium
Ruangan kedua adalah Ruangan Sejarah Rempah. Hampir sama dengan ruangan rempah di awal, ruangan ini juga menyajikan berbagai macam rempah-rempah yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Di ruangan ini, Traveler bisa mempelajari berbagai macam rempah-rempah yang ada di Indonesia beserta sejarah & penyebarannya di berbagai pulau di Indonesia.

Ruang Sejarah Rempah
Biji Pala, Cengkeh & Kayu Manis
Berbagi Macam Rempah Nusantara 





Koleksi Simplisia Rempah & Obat
Dari ruangan Sejarah Rempah, Traveler akan melihat ruangan yang diberi nama Ruang Emas Hijau Nusantara. Kira-kira Traveler tau apa itu emas hijau nusantara..? kalau jawaban Traveler adalah pohon Gaharu maka jawaban Traveler benar. Gaharu sendiri adalah pohon yang memiliki harga jual yang tinggi karena memiliki aroma yang wangi sehingga banyak dicari oleh produsen pembuat produk minyak wangi. nah di ruangan ini, Traveler bisa melihat sejarah & perkembangan dari pohon gaharu, kegunaan dari gaharu serta produk-produk yang merupakan hasil dari olahan pohon gaharu.

Ruang Emas Hijau Nusantara
Ukiran Gaharu
Diujung ruangan, Traveler akan melihat berbagai macam stand-stand. Stand-stand ini adalah stand yang menyajikan berbagai macam jenis umbi-umbian beserta olahan-olahannya. Mulai sebagai bahan makanan pokok, makanan ringan, sereal sampai dengan jenis umbi-umbian yang merupakan hasil dari penyilangan. Di belakang stand umbi-umbian, terdapat stand batik dimana Traveler bisa melihat berbagai macam motif batik yang dibuat dengan menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Stand Umbi-umbian
Stand Batik
Dari lantai atas, sekarang saatnya Traveler menuju ke lantai bawah museum. Di lantai bawah adalah ruangan yang bertemakan Pemanfaatan Tumbuhan Indonesia. Di ruangan ini, Traveler bisa melihat berbagai macam koleksi benda-benda atau alat-alat yang berbahan dasar tumbuh-tumbuhan yang ada di seluruh Indonesia. Koleksinya antara lain seperti anyam-anyaman, perkakas & alat berburu,  alat bercocok tanam, alat memancing, pakaian tradisional suku pedalaman, alat musik, obat-obatan, koleksi basah, permainan tradisonal anak, senjata tradisional, jenis-jenis kayu yang di manfaatkan dan lain-lain.

Lantai Bawah Museum
Lantai Bawah Museum 
Anyam-anyaman
Perkakas & Alat Berburu

Alat bajak sawah
Pakaian Suku Pedalaman
Alat Berburu Suku Pedalaman
Jenis-jenis Kayu Indonesia
Kerajinan Bambu
Kerajinan Labu
Kerajinan Lesung & Kentongan
Alat Musik Tradisional
Mainan Anak-anak
Kerajinan Pelindung Kepala
Alat-alat Perikanan
Jam Buka & Harga Tiket 

Museum ini Buka dari hari Senin sampai dengan Minggu & hari libur nasional dimana dari hari Senin sampai Kamis buka dari Pukul 08.00-16.00, di hari Jumat pukul 08.00-11.00 lalu buka lagi pada pukul 13.00-16.00 dan di hari libur buka dari pukul 09.00-14.00 . Sama seperti museum PETA Museum ini tidak mengenakan biaya tiket masuk.

Akses menuju ke sana

Sebenernya untuk ke museum ini paling simple adalah menggunakan KRL commuter Line Jurusan Bogor. Dari stasiun Bogor, Traveler cukup naik angkot sekali yang kearah Kebun Raya (Gw lupa nomernya berapa tapi bisa tanya orang sekitar kok). Lokasi museumnya ngak jauh dari pintu masuk Kebun Raya Bogor & untuk menuju kesana ada papan penunjuk jalannya jadi Traveler ngak akan bingung. Gw saranin sih lebih enak kalau Traveler Ngebolang alias Jalan kaki karena selain lokasi museum cukup dekat dari stasiun, Trotoar di bogor juga enak kok soalnya teduh & banyaknya pohon besar disepanjang jalan.

Ingin mempelajari lebih jauh mengenai dunia Etnobotani...??? yuk main ke museum ini.